
"Oemar Bakri"
"Laju sepeda kumbang, di jalan berlubang. Slalu begitu dari dulu waktu jaman jepang. Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang. Banyak polisi bawa senjata berwajah garang."
Sepenggal lirik lagu Oemar Bakri karya Iwan Fals, bercerita tentang Bapak Guru yang bersepeda kumbang saat berangkat dan pulang mengajar. Memang sedari kecil aku sudah akrab dengan lagu ini. Namun, bukan sepenuhnya karena lagu itu aku berkeinginan punya sepeda onthel (sepeda kumbang).
Ingin sehat, itu alasan utama aku ingin memilikinya. Porsi olahraga berkurang drastis selama tinggal di kota ini. Salah satu dunia yang kurasakan hilang adalah dunia bersepakbola. Selama di Surabaya, setidaknya tiga kali dalam seminggu aku berkucuran keringat hasil dari mengejar dan menendang bola sepak. Di kota ini, jangankan seminggu berkeringat karena olahraga, sebulan sekali pun itu kalau ingat, berjogging ria di Taman Cilaki, Lapangan Gasibu, atau Lapangan Sabuga ITB .
Salah seorang teman, adi wiyanto, berinisiatif membeli onthel untuk perjalanan ke kantor. Karena motor temanku tersebut dihibahkan ke kakaknya, maka selama belum ada onthel dia selalu naik angkot, kadang juga jalan kaki ke kantor yang berjarak sekitar dua kilometer. Aku pun mendukungnya untuk membeli onthel itu. Dari Handining, teman yang berkantor di Surabaya dia bersepakat soal harga yang ditawarkan.
Selain untuk koleksi pribadi, Handining memang berbisnis sepeda onthel. Harga yang ditawarkan memang jauh lebih murah dari harga di Bandung. Di Bandung, harga bisa dua kali lipat bahkan tiga kali lipat dari harga pertemanan tadi. Hanya saja harga sepeda nanti akan ditambah dengan ongkos kirim ke Bandung. Tapi, it's oke lah... Cingcay lah...
Setelah melihat dan merasakan betapa nikmatnya berkendara diatas onthel, aku memutuskan untuk membeli onthel juga. Cuti lebaran 2007 aku mudik ke Surabaya. Saat malam takbiran sepeda aku ambil di kantor KOMPAS Biro Jatim tempat Handining bekerja. Sehari sebelum balik ke Bandung onthel aku paketkan dengan kereta api. Saat tiba di Bandung aku siap ber-onthel ria setiap harinya.
Selama Oktober 2007 hingga kini setiap hari badan berteteskan peluh. Saat berangkat kantor, peluh berkucur begitu deras karena jalan agak menanjak. Tapi itu bukan masalah, malah membuat badan fresh dan seger. Saat pulang kantor, onthelku menggelincir dengan tenangnya karena jalan lebih landai. Berteman dengan I-Pod Nano 4 Gigabyte, diiringi lagu Oemar Bakri, bertambah nikmat dunia serasa.
Ada filosofi yang bisa kuambil. Saat memulai sebuah perjuangan, kita harus bermandi keringat terlebih dulu. Saat mengakhiri perjuangan itu, kita akan merasakan betapa nikmatnya keringat tersebut. Semoga...!!! Labels: Panglipur Ati, Pitutur |