Sunday, January 20, 2008
Sepeda Kumbang

"Oemar Bakri"

"Laju sepeda kumbang, di jalan berlubang.
Slalu begitu dari dulu waktu jaman jepang.
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang.
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang."

Sepenggal lirik lagu Oemar Bakri karya Iwan Fals, bercerita tentang Bapak Guru yang bersepeda kumbang saat berangkat dan pulang mengajar. Memang sedari kecil aku sudah akrab dengan lagu ini. Namun, bukan sepenuhnya karena lagu itu aku berkeinginan punya sepeda onthel (sepeda kumbang).

Ingin sehat, itu alasan utama aku ingin memilikinya. Porsi olahraga berkurang drastis selama tinggal di kota ini. Salah satu dunia yang kurasakan hilang adalah dunia bersepakbola. Selama di Surabaya, setidaknya tiga kali dalam seminggu aku berkucuran keringat hasil dari mengejar dan menendang bola sepak. Di kota ini, jangankan seminggu berkeringat karena olahraga, sebulan sekali pun itu kalau ingat, berjogging ria di Taman Cilaki, Lapangan Gasibu, atau Lapangan Sabuga ITB .

Salah seorang teman, adi wiyanto, berinisiatif membeli onthel untuk perjalanan ke kantor. Karena motor temanku tersebut dihibahkan ke kakaknya, maka selama belum ada onthel dia selalu naik angkot, kadang juga jalan kaki ke kantor yang berjarak sekitar dua kilometer. Aku pun mendukungnya untuk membeli onthel itu. Dari Handining, teman yang berkantor di Surabaya dia bersepakat soal harga yang ditawarkan.

Selain untuk koleksi pribadi, Handining memang berbisnis sepeda onthel. Harga yang ditawarkan memang jauh lebih murah dari harga di Bandung. Di Bandung, harga bisa dua kali lipat bahkan tiga kali lipat dari harga pertemanan tadi. Hanya saja harga sepeda nanti akan ditambah dengan ongkos kirim ke Bandung. Tapi, it's oke lah... Cingcay lah...

Setelah melihat dan merasakan betapa nikmatnya berkendara diatas onthel, aku memutuskan untuk membeli onthel juga. Cuti lebaran 2007 aku mudik ke Surabaya. Saat malam takbiran sepeda aku ambil di kantor KOMPAS Biro Jatim tempat Handining bekerja. Sehari sebelum balik ke Bandung onthel aku paketkan dengan kereta api. Saat tiba di Bandung aku siap ber-onthel ria setiap harinya.

Selama Oktober 2007 hingga kini setiap hari badan berteteskan peluh. Saat berangkat kantor, peluh berkucur begitu deras karena jalan agak menanjak. Tapi itu bukan masalah, malah membuat badan fresh dan seger. Saat pulang kantor, onthelku menggelincir dengan tenangnya karena jalan lebih landai. Berteman dengan I-Pod Nano 4 Gigabyte, diiringi lagu Oemar Bakri, bertambah nikmat dunia serasa.

Ada filosofi yang bisa kuambil. Saat memulai sebuah perjuangan, kita harus bermandi keringat terlebih dulu. Saat mengakhiri perjuangan itu, kita akan merasakan betapa nikmatnya keringat tersebut. Semoga...!!!

Labels: ,

posted by adhi @ 1/20/2008 02:18:00 AM   5 comments
Monday, November 19, 2007
Sendiko Dawuh...!
Sendiko Dawuh...!

Sendiko Dawuh...! Ndoro Kanjeng Juragan...! Sendiko Dawuh dalam masyarakat Jawa dikenal sebagai sebuah kata yang diungkapkan oleh seorang bawahan dalam menuruti perintah atasan. Sendiko Dawuh yang berarti kurang lebih bermakna "Iya, bersedia...". Bawahan, Abdi, Jongos, atau Babu berkisar dalam lingkaran Sendiko Dawuh...! Hanya mampu Sendiko Dawuh...! pada Ndoro, Kanjeng, atau Juragannya.

Seorang prajurit mengenal istilah yang sama dengan Siap Komandan...! Perintah atasan dalam hal ini Komandan adalah harga mati, tidak bisa ditawar, bahkan ditolak. Seorang teman saat ditanya kapan akan pulang mudik Idul Fitri 1428 Hijriah kemarin, dia menjawab, "Hanya Tuhan dan Komandan yang tahu..." Apakah kedudukan Komandan linier dengan Tuhan? Terserah kita memposisikannya.!

Taklid seorang Santri kepada Kiainya adalah wajah lain dari Sendiko Dawuh...! Tak hanya Santri yang taklid ke Kiai. Kiai pun bisa taklid ke Sesepuhnya. Seperti halnya seorang Gus Dur -mantan Presiden RI- yang taklid ke para Sesepuhnya. Beliau mau jadi Presiden kalau diperintah oleh lima orang Sesepuhnya. Baik saat terpilih menjadi Presiden lewat Pemilu tahun 1999 atau pun Pemilu tahun 2009 yang akan datang, beliau mesti menunggu restu dari lima kiai sepuh. Itulah budaya yang mengakar dilingkungan pesantren tanah air.

"Saya hidup dilingkungan pesantren Mas, saya dididik untuk taat pada Kiai saya," jawab Gus Dur saat ditanya soal ketaatannya pada Kiai sepuh di acara talkshow Kick Andy. "Bahkan disuruh masuk sumur pun Gus Dur mau?" tanya Andy F. Noya. "Iya, saya mau," jawab Gus Dur singkat. Itulah taklid !

Sendiko dawuh...! Siap Komandan...! atau pun Taklid adalah wajah ketaatan kita. Taat merupakan wajah lain dari taqwa. Posisi taqwa -kepada Tuhan- ada diurutan berapa?. Aku masih bertanya-tanya pada diriku sendiri. Karena aku masih seorang Jongos, Prajurit, dan Santri. Aku belum mencapai derajat hamba Tuhan. Lagi-lagi aku hanyalah seorang Jongos, Prajurit, dan Santri yang hanya mampu tunduk pada titah manusia.

Aku belum mampu Sendiko Dawuh secara kaffah pada Gusti Pangeran-Tuhan-ku.

Labels: ,

posted by adhi @ 11/19/2007 12:38:00 PM   9 comments
Thursday, August 30, 2007
Mad Suro Part 3

Mad Suro Part 3

Aneh memang, tapi diranah pergilaan ini tidak ada yang aneh. Seorang pemuda yang pernah dinyatakan sakit parah bahkan divonis akan mati, malah dihadapkan pada realitas bertolak belakang. Pemuda yang sedang "kinyis-kinyis"nya menikmati bangku kuliah divonis menderita Hepatitis A, yang secara medis katanya akibat makanan "kotor", tidak higienis, tidak sehat.

Pasca opname, setiap kali berangkat kuliah dia dibekali sebungkus nasi dan lauk-pauk "higienis" dari rumah. Saat memasuki areal kampus, dia melihat gembel lusuh tak terawat sedang meng"obrak-abrik" tumpukan sampah. Gembel yang katanya gila itu berlomba dengan seekor ayam mencari makanan yang bisa dimakan.

Walau sedikit pelit tak sekalian merelakan sendoknya, pemuda itu iba dan bermurah hati merelakan sebungkus bekalnya untuk gembel tersebut. Tak perlu sendok, tak perlu garpu, tak perlu sumpit, tangan kotor itu tak mampu men-stop makanan masuk ke mulutnya tanpa permisi. Tak ayal, ayam yang tadi bersaing dengannya sontak terbengong-bengong dan iri hati.

Tak lama pemuda tersebut berlalu meninggalkan tempat itu, ada suara cepat berlalu berkata, "Orang gila aja nggak mati".

Itulah enaknya jadi orang Gila...!!!

Labels:

posted by adhi @ 8/30/2007 06:59:00 AM   1 comments
Mad Suro Part 2

Mad Suro Part 2

Kecil ditambah kecil sama dengan setengah besar. Saat bilangan umurku setengah besar, ada tokoh baru yang muncul. Ada tokoh yang diregistrasi bahkan heregristasi untuk disebut gila. Pagi, ia berjalan menuju Utara. Sore, ia menuju Selatan. Apakah rumahnya di selatan? Aku tidak tahu?. Yang aku tahu, kesana-kemari ia membawa papan beroda yang diatasnya dipenuhi barang rongsokan.

Orang menduga, "Orang ini mungkin seorang pebisnis besi tua yang gagal hingga menjadi gila". Itu hanya dugaan manusia yang merasa sehat. Dugaan yang tak memikirkan latar belakang, fakta, atau bahkan riwayat hidup seseorang. Apakah dugaan itu sehat atau hanya dugaan rongsokan belaka?.

Tersebut nama, Rohim, seorang lelaki tua bertubuh kekar, berjenggot lebat, yang kadang kala terlihat menikmati senandung yang dinyanyikannya selama perjalanan. Kenikmatan itu seakan singgah dalam senandung lirih yang mampir hanya ditepi kerut bibirnya saja.

Itu bagian gila-ku saat setengah besar umurku.

Labels:

posted by adhi @ 8/30/2007 06:41:00 AM   0 comments
Mad Suro Part 1

Mad Suro Part 1

Wanita itu mungkin ditakdirkan gila. Wanita itu mungkin ditakdirkan cacat. Cacat secara mental yang terdefinisi dengan gila. Cacat fisik yang kasat mata tersirat dari tangan dan kaki kanannya. Dengan kompleksitas cacat di raga maupun jiwa wanita itu, maka manusia lain yang "GR" akan dirinya, -sebagai makhluk tersempurna- akan dengan mudah semena-mena mengolok, menghina, mengumpat bahkan meludahi wanita tersebut.

Manusia ber"label" waras pun pernah seenaknya menggunduli mahkota wanita tak waras itu. Jadi, manakah yang lebih waras?. Bagi yang belum pernah mendapat ilmu anatomi tubuh, maka wanita ini seringkali memberi kuliah gratis. Disebuah sumur yang terletak diluar rumah tetanggaku, wanita itu seringkali mandi bertelanjang bulat dengan beberapa bagian tubuh yang bulat.

Mahasiswanya antara lain, tukang becak, bandar togel, preman kambuhan, Ibu RT, Pak RT, bahkan murid TK yang baru pulang sekolah -tekun menikmati kuliah itu karna disekolahnya belum ada kurikulum anatomi tubuh-. Sepenggal memori yang berkelebat mengingat kegilaan manusia yang tidak gila dan tidak mau dianggap gila karena merasa sempurna -seperti yang pernah disuratkan-Nya-.

Itu hanya sepenggal kenangan kecil semasa kecil.

Labels:

posted by adhi @ 8/30/2007 06:10:00 AM   1 comments
Friday, August 24, 2007
Opiniku

Opiniku

Disebuah pelataran rumah mewah.

Seekor anjing menggonggong karena kelaparan. Gonggongan si anjing mampu menarik perhatian sang majikan. Majikan menghampiri dengan tenangnya dan menawarkan pilihan makan siang si anjing. Saat sebungkus makanan favorit si anjing disodorkan untuk dipilih, si anjing menggangguk pertanda suka. Tak lama, sang majikan keluar dari dapur setelah membuatkan hidangan si anjing. Di pelataran si anjing tampak tersenyum karna hidangan favoritnya telah siap disantap.

Dengan lahap si anjing menikmati semangkuk makanan favoritnya. Bahkan sampai dijilati tak bersisa. Setelah kenyang, si anjing dengan enaknya berlalu menuju halaman samping rumah. Disana dia bisa bermain atau tidur pulas selepas perut terisi penuh. Sang majikan dengan sabar dan telatennya membereskan tempat makan si anjing. Dan dibawanya mangkuk itu ke dapur untuk dicuci. Disaat yang sama dan hal yang sama akan selalu terulang setiap harinya.

Disebuah perkantoran mewah.

Seorang majikan merasa siang itu lapar sekali. Dengan berteriak sang majikan memanggil seorang office boy. Si office boy dengan tenangnya menghampiri sang majikan. Si office boy menawarkan menu makanan siang, disaat menu sesuai dengan selera, sang majikan mengganggukkan kepala pertanda suka. Tak lama, si office boy sudah kembali lagi kekantor dengan membawa sebungkus makanan yang dipesan majikannya. Di belakang meja kantor, sang majikan tampak tersenyum karna pesanannya sudah datang.

Dengan lahap sang majikan menikmati semangkuk makanan favoritnya. Bahkan sebulir nasi pun tak disisakannya. Setelah kenyang, sang majikan dengan enaknya berlalu menuju lantai bawah kantor. Disana dia bisa bermain atau tidur pulas selepas perut terisi penuh. Si office boy dengan sabar dan telatennya membereskan tempat makan sang majikan. Dan dibawanya mangkuk itu ke dapur untuk dicuci. Disaat yang sama dan hal yang sama akan selalu terulang setiap harinya.

Opiniku.

Sebuah lagu dari Iwan Fals berjudul "Opiniku" mengingatkanku akan hal ini :

Manusia sama saja dengan binatang
Selalu perlu makan
Namun caranya berbeda
Dalam memperoleh makanan...

Pesan agar kita berbeda :
1. Tidak perlu "menggonggong" untuk menyuruh office boy.
2. Setelah kenyang, jgn biarkan meja kantor dikotori oleh tempat makanan kita.
3. Setelah kenyang, taruh sendiri piring ke dapur tanpa menyuruh office boy.
4. Kalau perlu, cuci sendiri sampai bersih.
5. Kalau perlu, mulai sekarang jadilah office boy... Hehehe......

Salam Cinta...


Labels:

posted by adhi @ 8/24/2007 01:09:00 AM   3 comments
Tuesday, August 14, 2007
Banyak Kisah
Banyak Kisah


Ada banyak wajah, ada banyak pakeliran, ada banyak frame yang bisa mengisahkan setangkup ketaatan seorang hamba kepada Pencipta di kehidupan malam, pagi, pun siang. Ada kisah berbau wangi, ada kisah beronak duri, pun kisah beraroma sufi. Dalam sebuah pencarian atau dalam sebuah perjalanan ditengah pertemuan yang manis dengan Sang Tuhan. Anak manusia memang tak punya daya, yang bisa hanya menengadah meminta. Illah maha segala dan tak sedikitpun berpunya sahaya.


Satu wajah berkelebat lewat depan muka. Wajah yang selalu sama, khusuk ditengah malam sunyi yang berselimut dingin. Wajah itu berulang berkelebat saat langkah melewati sebuah bangunan nan cantik. Selembar bahkan dua lembar koran tak peduli dari terbitan mana, tak peduli berapa oplahnya, yang dia peduli, bisa untuk alas bersimpuh saat tengah malam menerkam. Setiap aku berkelebat atau dia yang seakan berkelebat, pemandangan yang sama yang ada. Selembar bahkan dua lembar koran dan setangkup tangan menengadah meminta dalam do'a. Teman setia disebelahnya lebih setia dengan nyenyak tidurnya pun berjuta impinya. Namun, wajah itu lebih setia dengan kecintaannya pada Tuhannya. Aroma malam saat itu wangi sekali...


Saat matahari masih malu menampakkan senyumnya, senyum tersungging pemuda separuh baya seraya menyapa. Tak lama, setelah terdengar panggilan suci, pemilik senyum itu membasuh pipi tempat bersemayamnya sang senyum pagi. Selembar bahkan dua lembar koran lalu digelarkannya. Pakeliran pagi dan pagelaran beruntai kalimat indah dimulai. Kalimat indah, senandung pujian teruntai dalam kosmos do'a. Beralas selembar bahkan dua lembar koran, akrab dengan petak-petak putih ubin keramik nan cantik. Petak-petak itu semua putih, seputih cintanya pada Tuhannya. Anak manusia mulai merayap dan bergelanyut membuka tirai sang pagi. Pakeliran pagi itu mempersilakan perjalanan beronak duri dimulai...


Siang membuai telanjang tergerai. Terik sengatan lidah yang mulai tak akrab lagi seperti pagi tadi. Frame seorang kawan setia tempat tertawa, tempat terbahak penuh canda, lebih memilih setia pada Tuhannya. Dia langkahkan kakinya menelusur kearah anak sungai. Diantara bebatuan kali kawan setia membasuh diri hingga suci. Selembar bahkan dua lembar koran digelarkannya diatas hitam batu kali. Dihadapkannya dan disujudkannya raga tak berharga pada Sang Kuasa. Dipanjatkannya dan dihaturkannya semua hajat dan pinta. Gemericik sungai beriring gemericik tasbih bergesek, seraya teruntai kalimat suci terjuntai. Kawan setia lebih cinta pada Tuhannya layaknya seorang wali yang sufi...


Dimanapun dan kapanpun, Tuhan senantiasa bersemayam. "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [Qaff : 16]

Labels:

posted by adhi @ 8/14/2007 06:57:00 PM   2 comments
Wednesday, August 01, 2007
Kemampuan Memilih

Dikutip dari Milist Inspirasi Indonesia

Kemampuan Memilih

Dicky adalah manajer sebuah restoran. Ia selalu dalam keadaan bugar secara emosional. Ketika seseorang bertanya tentang kabar atau keadaannya, ia selalu menjawab dengan gembira, "Jika saya bisa lebih baik, saya pastilah kembar!".
Sejumlah pegawai restoran akan berhenti dari tempat kerjanya saat Dicky memutuskan pindah, agar mereka dapat ikut bekerja lagi bersama Dicky di restoran yang baru. Mengapa?
Sebab Dicky adalah motivator yang handal. Jika seorang pegawai mengeluh tentang hidupnya, Dicky selalu bersedia mendengarkan, dan kemudian mengajak pegawai tersebut melihat situasi yang dialaminya dari sisi yang positif.
Melihat caranya yang demikian membuat saya sangat ingin tahu, sehingga suatu hari saya menemuinya dan bertanya langsung padanya: "Saya tak mengerti! Tidak seorang pun yang pernah saya kenal bisa bertindak selalu positif seperti Anda. Bagaimana Anda bisa demikian positif terhadap segala sesuatu?"
Dicky menjawab, "Setiap pagi saya bangun dan berkata pada diri sendiri, saya punya dua pilihan hari ini. Saya bisa memilih untuk merasa baik ATAU merasa buruk hari ini. Saya selalu memilih untuk merasa baik. Setiap kali ada hal buruk yang terjadi, saya masih bisa memilih merasa menjadi korban ATAU memilih untuk menarik pelajaran dari hal-hal tersebut. Saya selalu memilih untuk menarik pelajaran dari kejadian seburuk apapun. Setiap kali seseorang datang untuk mengeluh pada saya, saya bisa memilih untuk menerima keluhan mereka ATAU mencari sisi positif dari keluhan tersebut. Dan saya selalu memilih untuk mencari sisi positifnya.”
"Tapi pastilah tidak selalu semudah itu,“ bantah saya. "Ya semudah itu," kata Dicky. "Hidup adalah soal pilihan-pilihan. Ketika Anda melihat semuanya dengan jernih, setiap situasi adalah sebuah pilihan. Anda memilih bagaimana merespons sebuah situasi. Anda memilih bagaimana orang lain mempengaruhi suasana hati Anda. Anda memilih untuk merasa baik atau merasa malang. Andalah yang memilih bagaimana menjalankan hidup Anda sendiri”.
Beberapa tahun kemudian, saya mendengar kabar bahwa Dicky secara tak sengaja melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh siapa pun yang mengelola bisnis restoran. Ia meninggalkan pintu belakang restorannya terbuka tak terkunci.
Lalu?
Pagi harinya ia dirampok oleh tiga orang bersenjata. Mereka menginginkan semua uang yang dimilikinya. Ketika Dicky mencoba membuka safe deposit box-nya, tangannya gemetar karena gugup, sehingga ia tak bisa memutar kombinasi yang tepat. Para perampok menjadi panik dan menembaknya sebelum kabur.
Untunglah, Dicky cepat ditemukan dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Setelah 18 jam operasi dan berminggu-minggu perawatan intensif, Dicky akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit dengan sejumlah pecahan peluru masih tertinggal dalam tubuhnya.
Saya bertemu lagi dengan Dicky sekitar 6 bulan setelah kejadian tersebut. Dan ketika saya menanyakan keadaannya, ia menjawab, "Jika saya bisa lebih baik, saya pastilah kembar. Mau lihat bekas lukanya?"
Saya menolak melihatnya, tetapi bertanya apa yang ada dibenaknya ketika perampokan berlangsung. "Hal pertama yang melintas dalam pikiran adalah saya seharusnya mengunci pintu belakang," jawab Dicky. "Lalu, setelah ditembak, saya terbaring dilantai, saya ingat bahwa saya memiliki dua pilihan: saya bisa memilih untuk mencoba bertahan hidup ATAU memilih mati. Saya memilih tetap hidup."
"Apakah Anda tidak merasa takut?“ tanya saya. Dicky meneruskan, “Paramedis sungguh luar biasa. Mereka mengatakan bahwa saya pasti bisa diselamatkan. Namun ketika mereka mendorong saya ke ICU dan saya melihat ekspresi wajah para dokter dan perawat, saya benar-benar menjadi takut. Dari sorot mata mereka, saya membaca ‘orang ini akan mati’. Saat itu saya tahu saya harus melakukan sesuatu.”
"Apa yang Anda lakukan?" tanya saya. "Nah, ada seorang perawat yang bertanya kepada saya," kata Dicky. "Ia bertanya apakah saya alergi terhadap sesuatu." “Ya,” jawab saya.
Para dokter dan perawat berhenti bekerja dan menunggu penjelasan saya lebih jauh. Saya menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, 'Saya alergi peluru! Tolong keluarkan peluru itu dari tubuh saya'. Itu membuat mereka tertawa. Ditengah tawa mereka, saya berkata, 'Saya memilih untuk hidup. Tolong operasi saya seperti orang yang ingin tetap hidup, bukan seperti orang yang akan mati’.

Dicky bertahan hidup karena kemampuan para dokter yang menangani operasinya, tetapi juga karena sikap hidupnya yang mengagumkan.

Saya belajar darinya bahwa setiap hari Anda punya pilihan untuk menikmati hidup Anda atau membencinya dengan alasan apapun. Hal satu-satunya yang merupakan milik Anda---sesuatu yang tidak bisa dikendalikan atau diambil dari diri Anda---adalah sikap pribadi Anda. Dan jika Anda menjaga sikap Anda tetap positif, maka hal apapun yang lain dalam hidup ini akan menjadi lebih mudah untuk dihadapi.

Tidak jelas apakah kisah Dicky di atas berasal dari kisah nyata atau rekaan para penganut positive mental attitude. Namun satu hal jelas bagi saya bahwa ada sebuah wilayah dalam diri setiap manusia yang memang tak bisa dipaksa oleh apapun atau oleh siapapun secara mutlak. Dalam wilayah itu, terdapat potensi kemampuan untuk memilih secara relatif bebas. Kita bebas memilih apa yang ingin kita pikirkan, apa yang ingin kita rasakan, apa yang ingin kita katakan, dan apa yang ingin kita lakukan terhadap situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kemampuan untuk secara relatif bebas memilih sikap pribadi ada pada kita, ada di dalam diri kita. Kemampuan untuk bisa memilih secara bebas bahkan menjadi salah satu ciri pokok dari keadaan kita sebagai manusia. Kita bukan mesin komputer yang harus menerima diprogram apa saja tanpa bisa menolak sedikitpun. Kita justru adalah pencipta komputer, pencipta program-program yang bisa menganalisis baik-buruknya sebuah program. Kita diberi kemampuan untuk menciptakan sejumlah hal berdasarkan bahan baku yang telah lebih dulu diciptakan Tuhan, Sang Maha Pencipta.

*Andrias Harefa

Have a positive day!
Salam Inspirasi,
Mohamad Yunus HR & Training
Manager PT Widatra Bhakti
"You create your own reality"

Labels: ,

posted by adhi @ 8/01/2007 08:43:00 PM   1 comments
Thursday, July 26, 2007
Merasa Puas dan Lega
Wisdom Of The Day

"Ingatkah Anda ketika merasa puas dan lega? Pastilah bukan hari-hari dimana Anda tidak melakukan apapun, melainkan ketika Anda telah menyelesaikan pekerjaan yang ingin Anda lakukan dan telah Anda selesaikan". (Margaret Thatcher)

"Ingatkah Anda ketika merasa puas dan lega? Pastilah bukan hari-hari dimana Anda tidak melakukan apapun, melainkan ketika Anda telah berhasil "membuang" apa yang ingin Anda buang pagi ini". (Adi Wiyono)

Puas dan Lega sekali..... Mak Plooongg.....
Halah.... Jorok tenan iki... He-he-he....

Labels:

posted by adhi @ 7/26/2007 03:02:00 AM   1 comments
Monday, July 23, 2007
Cintai Sekadarnya Saja


Wisdom Of The Day

"Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya saja; siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kaubenci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya saja; siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan menjadi orang yang kaucintai." (Imam Ali R.A.)

"Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya saja; siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik mencintai orang lain." (Adi Wiyono)

Halah.... Pengalaman Pribadi.... He-he-he.....

Labels: ,

posted by adhi @ 7/23/2007 11:15:00 PM   0 comments
Sunday, September 03, 2006
Seperempat Abad di Muka Bumi, Saatnya tunggu Giliran Mati...

Seperempat Abad di Muka Bumi
Saatnya tunggu Giliran Mati...


Sudah seperempat abad aku dimuka bumi.

Aku bertanya kepada Bumi...

Apakah kau bosan dengan keberadaanku,

Ya aku bosan dengan keberadaanmu diatas punggungku.

Kau hanya mampu berpijak dan menginjak,

Tak mampu menguak dan menyeruak.

Kuak dan seruakan segala keindahan dan kebajikanku,

Kuak dan seruakan segala kemahadahsyatan karunia-Nya.

Sudah seperempat abad aku dimuka bumi.

Aku bertanya kepada Langit...

Apakah kau bosan dengan keberadaanku,

Ya aku bosan dengan keberadaanmu dibawah naunganku.

Kau hanya mampu berlindung dan berteduh,

Tak mampu menggaung dan mengunduh.

Gaung dan unduhlah segala keelokan dan kebijakanku.

Gaung dan unduhlah segala kemahaagungan anugerah-Nya.

Bumi dan Langit pun berucap...

Kau sudah terlalu lama diatas punggung bumi

Kau sudah terlalu lama dibawah naungan langit.

Sekarang...

Saatnya tunggu giliranmu akan kehadiran mati.

Seperempat abad dimuka bumi.

Apakah seperempat abad lagi aku masih berpijak dibumi.

Ataukah tinggal seperempat tahun lagi waktuku.

Ataukah tinggal seperempat bulan lagi waktuku.

Ataukah tinggal seperempat hari lagi...

Ataukah tinggal seperempat jam lagi...

Atau bahkan seperempat menit lagi...

Bahkan pula tinggal seperempat detik lagi...

Akan aku turuti nasehat Bumi.

Akan aku turuti petuah Langit.

Setelah itu biarkan aku mati...

Setelah itu biarkan aku mati...

Setelah itu biarkan aku mati...

Labels: ,

posted by adhi @ 9/03/2006 04:53:00 PM   0 comments
 
About Me


Name: adhi
Home:
About Me:
See my complete profile

Previous Post
Archives
Links
Template by
Free Blogger Templates