Sunday, January 20, 2008
Sepeda Kumbang

"Oemar Bakri"

"Laju sepeda kumbang, di jalan berlubang.
Slalu begitu dari dulu waktu jaman jepang.
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang.
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang."

Sepenggal lirik lagu Oemar Bakri karya Iwan Fals, bercerita tentang Bapak Guru yang bersepeda kumbang saat berangkat dan pulang mengajar. Memang sedari kecil aku sudah akrab dengan lagu ini. Namun, bukan sepenuhnya karena lagu itu aku berkeinginan punya sepeda onthel (sepeda kumbang).

Ingin sehat, itu alasan utama aku ingin memilikinya. Porsi olahraga berkurang drastis selama tinggal di kota ini. Salah satu dunia yang kurasakan hilang adalah dunia bersepakbola. Selama di Surabaya, setidaknya tiga kali dalam seminggu aku berkucuran keringat hasil dari mengejar dan menendang bola sepak. Di kota ini, jangankan seminggu berkeringat karena olahraga, sebulan sekali pun itu kalau ingat, berjogging ria di Taman Cilaki, Lapangan Gasibu, atau Lapangan Sabuga ITB .

Salah seorang teman, adi wiyanto, berinisiatif membeli onthel untuk perjalanan ke kantor. Karena motor temanku tersebut dihibahkan ke kakaknya, maka selama belum ada onthel dia selalu naik angkot, kadang juga jalan kaki ke kantor yang berjarak sekitar dua kilometer. Aku pun mendukungnya untuk membeli onthel itu. Dari Handining, teman yang berkantor di Surabaya dia bersepakat soal harga yang ditawarkan.

Selain untuk koleksi pribadi, Handining memang berbisnis sepeda onthel. Harga yang ditawarkan memang jauh lebih murah dari harga di Bandung. Di Bandung, harga bisa dua kali lipat bahkan tiga kali lipat dari harga pertemanan tadi. Hanya saja harga sepeda nanti akan ditambah dengan ongkos kirim ke Bandung. Tapi, it's oke lah... Cingcay lah...

Setelah melihat dan merasakan betapa nikmatnya berkendara diatas onthel, aku memutuskan untuk membeli onthel juga. Cuti lebaran 2007 aku mudik ke Surabaya. Saat malam takbiran sepeda aku ambil di kantor KOMPAS Biro Jatim tempat Handining bekerja. Sehari sebelum balik ke Bandung onthel aku paketkan dengan kereta api. Saat tiba di Bandung aku siap ber-onthel ria setiap harinya.

Selama Oktober 2007 hingga kini setiap hari badan berteteskan peluh. Saat berangkat kantor, peluh berkucur begitu deras karena jalan agak menanjak. Tapi itu bukan masalah, malah membuat badan fresh dan seger. Saat pulang kantor, onthelku menggelincir dengan tenangnya karena jalan lebih landai. Berteman dengan I-Pod Nano 4 Gigabyte, diiringi lagu Oemar Bakri, bertambah nikmat dunia serasa.

Ada filosofi yang bisa kuambil. Saat memulai sebuah perjuangan, kita harus bermandi keringat terlebih dulu. Saat mengakhiri perjuangan itu, kita akan merasakan betapa nikmatnya keringat tersebut. Semoga...!!!

Labels: ,

posted by adhi @ 1/20/2008 02:18:00 AM   5 comments
Sunday, October 21, 2007
Kerja adalah Cinta

Kerja adalah Cinta

Setelah seminggu lebih lamanya cuti, akhirnya hari ini, Minggu (21/10) aku kembali memulai bekerja lagi. Saat lagi asyik browsing klip Kla Project di You Tube, ada satu lagu yang berjudul Hey mempunyai lirik bagus yang diambil dari puisi Kahlil Gibran, yang sanggup memotivasiku untuk memulai bekerja dengan penuh cinta. Ceeilee...


Kerja adalah cinta yang mengejawantah
Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta
Hanya dengan enggan
Maka lebih baik jika kau meninggalkannya
Lalu mengambil tempat di depan gapura candi
Meminta sedekah dari mereka
Yang bekerja dengan suka cita

(dari sang Nabi – Kahlil Gibran)

Labels:

posted by adhi @ 10/21/2007 04:56:00 AM   2 comments
Wednesday, October 03, 2007
Mudik = Kembali ke Udik
Mudik = Kembali ke Udik

Pemerintah Indonesia akhirnya memperpanjang cuti bersama pada 12-19 Oktober 2007, sebelum dan sesudah hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 Hijriah, 13-14 Oktober 2007. Lho koq... Pemerintah tiru-tiru aku. Hehehe...

Pemerintah baru menetapkan cuti bersama itu Senin (1/10), sedangkan aku sudah menetapkan cuti sendiri -bukan bersama atau bareng-bareng- itu dari tanggal 18 September 2007 lalu. Dan Alhamdulillah cuti tersebut sudah di ACC oleh Bos. Sedangkan tetangga sebelah sangat sulit memperoleh ACC tersebut.

Cuti Idul Fitri berarti Mudik. Mudik berarti kembali ke udik. Udik berarti kampung. Yaaa... Aku pulang kampung... Aku pulang ke Kampung Bonek tercinta. Aku bakal kembali menjadi hitam legam lagi, kembali kucel lagi, setiap hari berteman dengan panasnya kota pesisir laut itu. Beda dengan kota ini yang membuatku tambah putih bersih dan tambah endut.

Banyak kemudahan diberikan oleh-Nya setiap aku ambil cuti. Cuti sebenarnya mulai tanggal 12 Oktober 2007, berhubung bisa tukar shift jadi bisa berangkat mudik tanggal 11 Oktober 2007. Kereta Turangga keberangkatan pukul 19.00 wib yang bakal mengantarkan pulang kampung. Tiket Kereta pun nggak perlu aku peroleh dengan antre berlama-lama di stasiun, tinggal nitip ke teman yang punya koneksi dengan Humas PT KA, tiket pergi pun sudah terbeli. Matur nuwun Cak...!!! Tiket untuk pulang (balik ke Bandung) tanggal 19 Oktober pun tinggal kontak kakak ipar di Surabaya. Esok harinya dering handphone mengabarkan kalau tiket sudah terbeli, dengan kereta yang sama dan harga tiket yang sama pula. Matur nuwun Cak...!!!

Cuti lebaran ini ada satu momen yang sangat aku nantikan. Sungkem ke Bapak tercinta, ziarah ke makam Emak tercinta, dan cium tangan Kakak-kakak tersayang. Hidup ini serasa lengkap sudah. Tak ketinggalan, saat itu aku bisa bercengkrama dengan semua keponakanku. Yang bikin pusing bin puyeng, dompetku bakal terkuras habis buat angpau mereka. Yach, risiko punya banyak keponakan. Hehehe...

Semoga cuti kali ini diberikan kelancaran dan tidak ada halangan seperti halnya cuti terdahulu. Semoga kereta yang aku tumpangi nggak anjlok. Hehehe... "Tapi aku berharap keretane anjlok Di. Khan iso langsung tak liput," kata temenku yang berharap kereta yang ditumpanginya anjlok saat pulang dari Yogya bulan lalu . Dasar otak wartawan, isine pengen liputan terus.....


Selamat cuti buat yang cuti... Selamat merayakan Idul Fitri di kampung halaman tercinta...

Labels: ,

posted by adhi @ 10/03/2007 04:29:00 AM   4 comments
Friday, September 08, 2006
Semalam, Gerhana Bulan di Bosscha
"Gerhana Bulan di Bosscha."


Kabar akan adanya peristiwa Gerhana Bulan pada Jum'at dini hari sekitar jam 00.45 wib. telah tersiar dan terkabar di media cetak maupun media elektronik.
Bagi sebagian orang kejadian ini merupakan peristiwa langka yang tidak boleh dilewatkan. Gerhana bulan merupakan peristiwa alam yang sangat bersejarah, karena peristiwa tersebut tidak setiap tahun dapat dijumpai.
Kamis, 07/09 malam sekitar jam 20.00 kantor riuh merencanakan untuk melihat peristiwa gerhana bulan itu bersama-sama di Observatorium Bosscha. Sebenarnya, sebelum adanya rencana itu, hari Rabu malam penugasan untuk liputan gerhana bulan di Bosscha diserahkan ke Mas Nasrul Alamazis inisial LAM wartawan KOMPAS dari Jakarta dan Rony Ariyanto seorang fotografer dari KOMPAS Jawa Barat. Dari Jakarta ilmuwan Bosscha dikabari via sms kalau KOMPAS akan mengirimkan seorang wartawan dan seorang fotografer.

Namun, dengan rencana liputan plus rekreasi itu menghasilkan dua mobil penuh dengan manusia yang haus akan keingintahuan melihat gerhana lewat teropong bintang di Bosscha. Walhasil, selanjutnya akan membuat ilmuwan Bosscha kaget akan kehadiran banyaknya personil dari Harian KOMPAS.

Berangkat dari kantor dibagi dua kloter keberangkatan didasarkan atas kerjaan yang di"Handle" apa sudah kelar ato belum. Kloter pertama berisi Mbak Elly (Wakabiro), Mas Lam (Wartawan), Rony (Fotografer), Reny (Wartawan Republika), Timbuktu Hartana ato Timmy (wartawan), Indah (Litbang). Kloter kedua berisi Mahdi Muhammad (Wartawan), Wisnu Widiantoro (Fotografer), Iwan maulana (Produksi Iklan), Agoeng P.(Produksi Redaksi), PakDhe Narto (Umum), Nanik (Penyelaras bahasa), dan aku sendiri.

Kloter pertama berangkat lebih dulu karena kerjaan mereka udah pada kelar semua. Setelah itu disusul kloter kedua setengah jam berikutnya. Di perjalanan, Mahdi menjemput kekasihnya yang bernama Yani di daerah Setiabudhi. Abis itu kita mampir ke Circle-K untuk belanja snack dan softdrink buat isi perut. Perjalanan dilanjutkan, sudah masuk dikawasan Lembang dan mobil mulai masuk dikawasan perumahan Bosscha.

Didepan tampak sorot lampu dari mobil Kijang yang ditumpangi kloter pertama tadi. Karena penasaran, maka kami menanyakan alasan mereka balik arah. Ternyata mereka ingin mencari Jagung bakar dulu sambil menunggu tengah malam tiba. Tak ayal rombongan kloter kedua pun mengikuti dari belakang. Arah mobil menuju ke arah Lembang ke arah menuju daerah Gunung Tangkuban Parahu. Deretan pedagang sate kelinci dan jagung bakar terlihat berjajar rapi disepanjang jalan menuju Subang tersebut. Dan akhirnya kita bersama membelokan mobil untuk merapat ke warung-warung pinggir jalan itu.

Kebanyakan dari kita memesan Jagung Bakar Pedes manis. Tapi aku lebih memilih Jagung Bakar Pedes Manis pake diserut dan dikasih taburan keju. Ollaaallaa... mamamia.... alias enak tenan.... Seremnya, warung yang kita singgahi itu berada dipinggir tebing yang bawahnya terlihat berjajar rapi batu nisan makam umum penduduk setempat. Horor banget.... malam Jum'at lagi... jangan-jangan ganggu Kuntilanak beranak... : )

Abis makan and ngobrol ngalor-ngidul, waktu sudah menunjukkan jam 00.00 wib alias Jum'at dini hari. Perjalanan dilanjutkan meluncur ke Bosscha. Tidak lebih dari lima belas menit sudah nyampek di pintu gerbang Bosscha. Dari kejauhan tampak ada bermobil-mobil rombongan lain yang tampak ramai, ternyata rombongan tersebut adalah rombongan guru mgmp ipa dari Kabupaten Siak Riau Sumatera. Rombongan tersebut selain untuk melihat fenomena gerhana bulan misi utamanya adalah untuk mengikuti sosialisasi dihapuskannya Pluto dari susunan tata surya kita.

Ditaman bagian depan tampak kerumunan wartawan Televisi sedang mewawancarai pengunjung Bosscha yang ingin melihat fenomena gerhana bulan. Rombongan KOMPAS langsung masuk ke Observatorium, pertama kali kita disambut oleh Bpk. Taufik kepala Observatorium Bosscha. Lalu beliau mempersilahkan kita mengikuti pemaparan sosialisasi dihilangkannya Pluto dari susunan tata surya kita. Selama sekitar lima belas menit pemapamaran dilakukan dengan menggunakan slide projector diruangan yang remang-remang seperti studio 21 cineplex. Setelah itu semua pengunjung dipersilahkan menikmati fenomena alam luar angkasa lewat teropong bintang yang disediakan untuk umum.

Disamping ruang pengamatan atau ruangan teropong Unitron tampak fotografer KOMPAS Rony dan Iwan maulana sibuk mengabadikan wajah bulan malam itu dengan kamera mereka. Dengan cara tidur telentang diatas tikar yang disediakan petugas Bosscha mereka dari awal hingga akhir tak beranjak dari tempat itu supaya tak ketinggalan momen bersejarah.

Sementara itu aku coba melihat ke teropong bintang yang lebih besar diameternya. Teropong Schmidt Bima Sakti namanya. Dengan atap bangunan yang seperti kubah dan terbuka menganga ke langit malam, sebuah teropong yang terlihat seperti di gambar diatas tampak kokoh untuk merobos angkasa malam saat itu. Wajah bulan tampak dekat sekali dengan kita dan detailnya tak samar lagi. Tak berlama-lama disana karena dipenuhi rombongan guru maka aku kembali ke tempat semula di teropong Refraktor Unitron. Teropong yang berdiameter hanya 102mm dan dengan fokus 1500mm itu ternyata teropong yang paling tua diantara teropong yang ada disana. Tahun produksi 1923 yang terbilang seangkatan dengan Moyang kita masih awet menemani pengunjung menjelajahkan pandangan ke luar angkas.

Sementara fotografer masih asyik mengamati wajah bulan yang berangsur menghitam sedikit demi sedikit aku sibuk makan kacang kulit dan jalan mondar-mandir untuk menghilangkan dingin yang memang menyerang dengan tenang. Dengan samar terdengar kumandang suara takbir layaknya yang kita dengar saat malam Idul fitri atau Idul Adha. Suara itu terdengar dari arah Gegerkalong yang terdapat sebuah pondok pesantren milik Aa' GYM yaitu Ponpes darut Tauhid. Mungkin Jamaah Darut Tauhid sedang mengadakan sholat gerhana atau melakukan ibadah memperingati Nisfu Sya'ban aku kurang jelas, maklum kurang tau masalah agomo.

Pak Hendro yang pernah muncul di film Petualangan Sherina sebagi petugas Bosscha dengan santai melayani pertanyaan kami. Di ruang teropong Unitron beliau juga menawarkan hasil foto-foto yang sudah dijepret langsung via teropong dengan sebuah kamera yang melekat diujung teropong itu. Gambar diupload ke komputer via kabel usb. Tak ayal, gambar yang dihasilkan sangat bagus dan mengesankan.

Pak Hendro juga merasa keheranan dengan kehadiran rombongan kami. "Katanya cuman seorang, koq yang datang malah dua mobil", ucapnya. Enteng aja jawab kami, yang liputan cuman seorang tapi yang lainnya cuman nebeng rekreasi... : ) Disambut senyum Pak Hendro.
Pak Hendro juga heran... wartawan dari media lain sudah pada pulang, kok KOMPAS masih betah disini ya...?
Wong namanya rekreasi pak... nggak liputan... ya betah aja.... ; )


Jam sudah mulai mendekati pukul 3 pagi hari dan gerhana sudah mulai kembali normal. Saatnya Say Good Pagi.... kami pun mulai berpamitan dan tidak lupa berterima kasih atas sambutan hangat Bosscha.
Setelah mengantarkan PakDhe Narto balik ke kantor, rombongan kloter kedua balik arah ke Tamansari buat beli makan Indomie Telor Kornet kalau disingkat "Internet". Abis makan dan perut udah penuh langsung aja pulang ke kantor.

Mata udah mulai ngantuk...... Saatnya micek forever dimulai.......
MERDEKA Micek.... HIDUP Molor....


Labels:

posted by adhi @ 9/08/2006 09:19:00 PM   1 comments
 
About Me


Name: adhi
Home:
About Me:
See my complete profile

Previous Post
Archives
Links
Template by
Free Blogger Templates